Muhasabah Diri: Kematian Si Penghancur Kelezatan

Wakaf Alquran – Sahabat Bawais, pernahkan kita menjajal memba ygkan sewaktu kita terbangun dari tidur, keadaan di sekitar kita sudah berganti. Ketika menyaksikan ke sekeliling kita, entah apa yg telah terjadi, berbagai orang yg kini tengah menyaksikan sosok jasad yg sudah terbujur kaku.

Di sanalah, keluarga yg kita cintai, sanak kerabat kita, kerabat kita, sobat-sahabat terdekat kita tengah menangis di samping sosok jasad yg terbujur kaku. Alangkah kagetnya di saat kita lihat jasad yg terbaring diselimuti kain putih di tengah-tengah mereka ternyata ialah diri kita.

Tak usang dari itu, jasad kita dibawa ke suatu tempat. Kemudian, dimasukkan ke dlm lubang yg ukurannya tidak lebih dari satu kali dua meter dengan ke dlman yg tidak lebih dari dua meter.

Keluarga serta orang-orang terdekat mengirimkan jasad kita hanya selama beberapa saat ke liang lahat tersebut. Setelahnya, mereka pergi &kita pun perlahan mendengar suara langkah mereka yg pelan-pelan mulai menghilang meninggalkan kita sendirian. Pada jadinya kita pun hanya ditemani sunyi, ditinggalkan sendirian dlm kegelapan. Tak ada lagi keluarga maupun orang-orang terdekat yg menemani kita di dlm sana.

Inilah beliau si “Penghancur Kelezatan” dunia, beliau yakni suatu kepastian. Siapa pun niscaya akan mengalaminya, cuma soal waktu yg mampu membedakannya, ialah “Kematian”.

Banyak orang yg tidak suka dengan pembahasan ini, sebab pada hakikatnya maut merupakan perkara yg tidak disukai oleh siapa pun. Sebab, ajal memberikan gambaran yg menyakitkan salah satunya yakni berpisah dengan orang-orang yg dicintai.

Entah apa yg akan terjadi sesudah maut, banyak hal yg mencemaskan dibalik maut.

“Perbanyaklah banyak mengenang penghancur kelezatan (yakni kematian) alasannya bila seseorang mengingatnya ketika kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang &jikalau seseorang mengingatnya ketika kehidupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban &Al Baihaqi)

Suka tidak suka, mau tak inginkita harus banyak membicarakan &merenungi wacana kematian, karena walaupun kita telah banyak membaca Al Alquran atau sering menyimak pesan tersirat, tetapi kita masih sering gegabah terhadap ajal.

Entah itu karena sebagian hati kita sudah keras karena kemaksiatan yg sudah kita tumpuk tiap hari, atau sebab penglihatan yg haram, indera pendengaran yg haram, komentar-komentar yg tidak baik atau hati yg telah menghitam, atau juga alasannya adalah makan dari hasil yg haram, &masih banyak lagi penyebab lainnya yg mampu menciptakan kita ceroboh pada ajal.

Padahal, di sekitar kita berbagai orang-orang yg meninggal dimulai dari keluarga kita, kerabat kita atau kerabat kita. Apalagi di masa pandemi mirip saat ini. Meninggal dunia menjadi hal yg sudah tak aneh di lingkungan kita.

Namun, hati kita masih belum tergugah merencanakan diri untuk menghadapi akhir hayat. Sebab hati kita sudah mati sebab kemaksiatan atau karena dunia yg sudah menyibukkan kita sehingga kita ceroboh terhadap ajal. Sikap kita menunjukkan seakan-akan kita akan hidup usang di dunia, seolah-olah kita akan hidup abadi.

Kematian tidak bisa kita hindari, siapa pun tidak akan ada yg mampu lari darinya. Namun, sangat disa ygkan alasannya adalah masih sangat sedikit orang yg mau merencanakan diri untuk menghadapinya.

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata, “Aku tidaklah pernah menyaksikan suatu yg percaya kecuali kepercayaan akan ajal. Namun sangat disa ygkan, sedikit yg mau merencanakan diri menghadapinya.” (Tafsir Al Qurthubi)

Kematian adalah suatu masalah yg sangat diyakini setiap orang akan mati. Setiap umat semua sepakat bahwa akhir hayat itu ada, sesuatu yg pasti, sesuatu yg sangat diyakini tanpa ada keraguan di dlmnya.

Akan tetapi, kenapa ajal masih menjadi suatu hal yg mewaspadai? Karena masih banyak manusia yg memperlihatkan seakan-akan dirinya tidak akan pernah mati. Seakan-akan tidak percaya dengan adanya kematian.

Para ulama menamakan maut dengan “al Qiyamah as-Shughra”. Rasulullah SAW juga telah mengingatkan tiap umat perihal kematian dlm haditsnya,

“Orang yg telah mati, sudah datanglah kiamatnya sendiri,” (HR. Ibnu Abid-Dun-ya dari hadis Anas).

Sumber gambar: dunia.tempo.co

Editor: Rizal Hadizan

Baca Juga: Percetakan Alquran

Recent posts
Mengenal Tujuan Wakaf dalam Syariat Islam

Dalam perjalanan mencari pemahaman yang lebih mendalam mengenai wakaf dalam Islam, mari kita menjelajahi perintah dan tujuan wakaf berdasarkan syariat Islam. Wakaf adalah tindakan ibadah yang memiliki peran sentral dalam mengembangkan semangat keagamaan dan sosial dalam masyarakat. Artikel ini akan membahas perintah dan tujuan wakaf dalam Islam secara mendalam, memberikan gambaran yang komprehensif tentang betapa…

Baca Selengkapnya
Isi Kandungan Quran Surat Az-Zariyat Ayat 56: Ibadah adalah Tujuan Hidup

Isi kandungan quran surat az-zariyat ayat 56 – Surat Az Zariyat ayat 56 dalam Al-Quran memberikan banyak pengajaran penting bagi umat manusia. Salah satunya adalah tugas dan kewajiban kita untuk mengabdi hanya kepada Allah SWT. Lafal Bacaan Al-Qur’an Surat Az-Zariyat Ayat 56 & Terjemahan Bahasa Indonesia وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ wamaa khalaqtu ljinna wal-insa…

Baca Selengkapnya